wibiya widget

Candik Ala/ Di waktu maghrib


 
i
Quantcast
Setelah matahari tengah hari tergelincir, langit berangsur berubah berwarna kuning. Sinar menyilaukan berpendar-pendar membiaskan kabut kuning menerpa seisi alam. Cuaca seperti inilah yang oleh ibu disebut sore “candik ala”. Suatu sore yang jelek. Suatu sore yang membawa malapetaka dan penyakit. Dalam cuaca seperti ini, kami diharuskan masuk ke dalam rumah. Aku tidak lagi mau bertanya kepada ibu, perihal kenapa kita mesti takut kepada cuaca seperti itu. Karena kalau aku bertanya hal-hal aneh, seperti misalnya larangan untuk duduk di depan pintu yang nanti akan dimakan Batara Kala, akan selalu dijawab dengan nada agak marah, dengan kata yang tak kupahami maksudnya: “Ora ilok!” kata ibu. Tapi kali itu, setelah beberapa kali mengalami sore candik ala, aku tak tahan lagi untuk tidak bertanya tentang ayah, yang sudah berbulan-bulan tidak pulang. Ibu seperti menghindar, memalingkan muka menyembunyikan wajahnya, sambil jawabnya: “Nanti juga kalau saatnya pulang, pasti pulang.” “Apa nggak kena penyakit karena candik ala, Bu?” tanyaku tak sabar. Ibu diam saja. Memang, kadang-kadang setengahnya aku
kurang percaya dengan hal-hal aneh demikian, tapi kadang kala pula hati
dibuat ciut dengan kejadian seperti yang pernah kami alami tahun lalu.
Menjelang tengah malam kudengar suara kentongan bertalu-talu, seperti
jutaan kentongan dipukul bersamaan. Semula terdengar samar-samar,
seperti dari kejauhan, semakin lama semakin keras seperti semakin
mendekat. Ibu segera berdiri di balik pintu depan, sambil komat kamit
membaca doa. Kudengar sepotong doanya:
“Ngalor, ngalor, aja ngetan aja ngulon.”
Kupeluk kaki ibu karena ketakutan oleh sesuatu yang tidak kumengerti.
“Ada gejog,” kata ibu, “Nyai Roro Kidul bersama bala tentaranya
sedang berarak menuju istananya di gunung Merapi. Orang yang tinggal
dekat Segara Kidul, yang pertama kali melihat ombak laut besar dan suara
gemuruh, mulai memukul kentongan. Itu pertanda Nyai Roro Kidul keluar,
naik kereta kencana, diiringi para serdadu jin. Kemudian orang desa yang
akan dilewati rombongan itu beramai-ramai memukul kentongan supaya
beliau tidak singgah ke desanya. Karena setiap beliau singgah, beliau
akan mengambi abdi dalem baru.”
Aku tetap kurang paham akan keterangan ibu. Yang aku tahu ibu telah
berdoa supaya rombongan itu tidak singgah ke sebelah timur Gunung
Merapi, letak desa kami.
Beberapa hari kemudian, malamnya, dua lelaki berseragam loreng datang
ke rumah dan mengajak ayah pergi, sepertinya dengan cara paksa. Ibu
mengejar sampai halaman depan sambil memohon supaya ayah jangan dibawa
dengan penuh iba.
“Ayah dibawa Nyai Roro Kidul ya Bu?” tanyaku.
“Hush!” jawab ibu sambil bergegas langsung masuk kamar tidur. Kudengar tangisan ibu menyayat hati.
Berita tentang perginya ayah merebak ke seluruh desa. Meskipun tak
begitu aku pahami artinya, kudengar dari Lik Kasdi, pamanku, bahwa
ayahku terlibat. Terlibat apa aku kurang jelas, hanya yang kuketahui
juga dari tetangga bahwa ayahku adalah seorang pegawai negeri yang suka
memberi penyuluhan kepada para petani.
Sejak itu, ibu kerap pergi dengan menjinjing rantang berisi nasi
dengan lauk ikan asin dan sayur daun singkong kesukaan ayah. Kami,
anak-anak, tidak diperkenankan ikut serta. Beberapa kali, aku yang
merasa anak terkecil suka merengek minta ikut. Dengan sedikit marah ibu
menjawab:
“Ibu akan nengok ayahmu yang sedang kerja, kamu jangan ganggu dia!”
Pasti ayah sedang kerja lembur, pikirku. Tetapi beberapa bulan
kemudian, ibu tidak bisa lagi berbohong, karena kemarin aku dengar dari
Lik Kasdi, bahwa ayah ditahan di kota.
Dan dia bercerita panjang lebar, tentang pemberontakan besar. Waktu
itu yang tertangkap dalam otak kecilku adalah tentang para jenderal yang
dikorbankan dimakan buaya di sebuah lobang.
“Ayahmu sedang berjuang,” ujar ibu dengan wajah keruh ketika aku
tanya soal tahanan ayah. Tanpa tahu apakah yang dimaksud dengan
berjuang, yang pasti aku kerap kali menangis sendirian bila malam waktu
tidur tiba. Setiap bangun pagi, ibu melihat mataku sembab. Rupanya ibu
pun tahu akan kerinduanku pada ayah. Kulihat air matanya mengembang.
Kemudian memelukku erat-erat, dan tangisnya tertahan meskipun air
matanya deras membasahi pundakku. Jadinya aku ikut menangis tanpa kutahu
sebabnya.
Sore itu, cahaya candik ala menyelinap lewat jendela menerpa lemari
kaca tempat memajang foto ayah dalam bingkai. Mungkin karena rinduku
pada ayah, kulihat seakan foto ayah bergerak, tangannya melambai
kepadaku. Terasa di dalam dadaku ada yang menggelepar-gelepar.
Kudengar pula dari Lik Kasdi, ayah bersama para tahanan beberapa lama
ini sedang dipekerjakan membuat tanggul sepanjang rawa besar di daerah
tak jauh dari rumah kami. Katanya tanggul yang sepanjang tiga kilometer
ini sekaligus untuk jalan penghubung antardesa yang terpisah oleh rawa.
Karena rinduku tak tertahankan lagi, dengan mengendap-endap lewat pintu
dapur, tanpa sepengetahuan ibu dan tanpa takut dengan cuaca candik ala,
sambil membawa pancing bambu, kugenjot sepedaku lari kencang ke rawa,
dengan harapan ayah masih di sana.
Setiba di sana, nampak banyak orang berseragam loreng dengan
menyandang senjata laras panjang. Mereka berjaga di sebelah timur rawa,
di mana kulihat ratusan orang sedang bekerja menggali tanah dan
mengangkat batu. Dalam terpaan cahaya kuning, wajah-wajah kurus semakin
mempertegas cekungan mata bagai mayat hidup. Dadaku berdebar-debar, tak
sabar untuk bisa cepat-cepat bertemu ayah, yang mungkin ada di sana.
Beberapa meter sebelum mencapai tempat mereka, seorang petugas
mengusirku, dan menyuruhku mancing agak jauh dari situ.
Kutaruh sepeda di pinggir jalan, kemudian duduk mencangkung di atas
batu padas di pinggir rawa. Dengan berpura-pura memancing, terus
kutajamkan mataku mencari ayah di antara ratusan orang yang sedang
bekerja. Langit yang membiaskan warna kuning agak menyilaukan mataku,
sehingga sulit mencari di mana ayah berada. Ketika langit berubah warna
memerah, pertanda magrib menjelang tiba, dan ketika aku nyaris putus
asa, kulihat di kejauhan seseorang berdiri tegak memandang ke arahku,
sementara yang lain masih bekerja…. Itulah ayah!
Kulempar pancing, tanpa menghiraukan para petugas, aku pun berlari,
menangis sambil berteriak keras-keras memanggil ayah. Ayah seperti
tertegun melihat kedatanganku.
Tetapi kemudian wajahnya berubah gembira, meskipun kulihat seperti
dipaksakan. Lengannya terentang menyambutku. Kujatuhkan diriku memeluk
lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Kulihat ayahku sangat kurus dan
lusuh, tapi nampak diusahakan selalu tubuhnya ditegap-tegapkan.
“Kapan ayah pulang? Kapan, yah, kapan?” tanyaku berulang-ulang
Ayah tersenyum lebar sambil jawabnya: “Nanti kalau kerja besar ini selesai, cah bagus.”
Beberapa petugas mendekati kami. Ayah bicara kepada mereka beberapa
saat, kemudian kami dibiarkan berdua. Kami hanya berpelukan sampai
terdengar peluit tanda usai kerja. Kami bergerak bersama para tahanan
menuju truk-truk yang sudah tersedia, sambil kupeluk pinggang ayah.
“Ayah tidak kena penyakit karena candik ala?” tanyaku.
Ayah tertawa. Sambil mengelus rambutku ayah bekata:
“Tidak mungkin ayah kena. Ayah sehat karena banyak makan sayur.”
Kemudian ayah membopongku, menciumiku sambil tawanya yang nampak
dipaksakan pula. “Ayah nanti tidur di p..p..penjara?” tanyaku
terbata-bata menahan tangis.
“Siapa bilang, he..he..he, bukan di penjara, tapi di hotel!”
“Ayah sedang berjuang?” tanyaku kemudian. Ayah nampak kaget.
“Ibu yang bilang…,” kataku menjelaskan. Ayah tertawa mendengar ini.
Menjelang dekat truk, ayah berjalan dengan tegak sambil menyanyikan
sebaris lagu Indonesia Raya. Para petugas dan para tahanan
terheran-heran, memandang kami. Setelah menurunkan aku dari
gendongannya, ayah melompat ke bak truk. Sambil menoleh kepadaku, ayah
mengacungkan tinju ke atas, dan katanya keras-keras:
“Ingat Aryo, kamu harus selalu berjalan tegak, menghadapi nasib apa
pun. Termasuk kalau ada candik ala…. Dan jangan lupa lagu Indonesia
Raya!”
Barisan truk pelan-pelan semakin jauh meninggalkanku sendirian di pinggir rawa. Tak terasa air mata membanjir membasahi pipi.
“Ayaaaaaaaaah!!” teriakku keras-keras muncul sendiri tanpa kusadari.
Saat usia sekolahku tiba, suatu malam Lik Kasdi, yang sudah menjadi
carik desa, datang mengunjungi rumah kami. Di ruang depan dia bicara
setengah berbisik kepada ibuku. Dari balik pintu kamarku, kutangkap
pembicaraan mereka, bahwa ayah sudah menyambut maut dengan gagah sambil
menyanyikan Indonesia Raya, katanya.
“Saya sudah berusaha keras menolongnya, Mbakyu,” ujar Lik Kasdi,
“Sudah kuberi bukti bahwa Mas Kasman tidak terlibat, melainkan karena
fitnah bekas bawahannya yang sakit hati karena dia pecat.” Aku mau
menangis keras, tapi terasa tenggorokanku tercekik. Semalam suntuk aku
terduduk di balik pintu kamar, sambil mendengar isakan ibu dan Yu Rini,
berkepanjangan di kamarnya.
Tiga tahun kemudian, ibuku pun menyusul ayah. Bukan karena diambil
Nyai Roro Kidul, melainkan oleh sakit batuk yang diidapnya sekian lama.
Yu Rini pun menikah dengan seorang aparat desa dan aku ikut dengannya.
Berpuluh tahun kemudian, setelah melewati berapa puluh sore candik ala,
setiap cuaca demikian, ada sesuatu yang pedih, seakan ada yang pecah
berkeping-keping di dalam dadaku. Dan telah sekian puluh tahun pula aku
mencoba benar-benar berjalan tegak, tapi sangatlah sulit. Hanya karena
aku adalah anak kandung ayah. Dan semua orang masih saja mengingat ayah
adalah ayah kandungku.
Sekarang ini, aku masih juga mencoba berjalan tegak, meskipun sudah
sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi hanya baru bisa melata di
tanah!
Klaten, 2005
Catatan:
Candik ala: pertanda buruk dengan cuaca sore yang membiaskan warna kuning
Ora ilok: pamali, larangan
Gejog: barisan roh halus
Nyai Roro Kidul: Ratu Laut Selatan
Ngalor, ngalor, aja ngetan, aja ngulon: ke utara, ke utara, jangan ke timur jangan ke barat
Segara Kidul: Laut Selatan
Kali Woro: sungai besar di lereng gunung Merapi yang dipenuhi pasir dan lahar dingin..

Unik /Sudah Tahu Kecil, Kok Mau Jadi Presiden?


CIKINI (Pos Kota) – Peneliti LIPI Ikrar Nusa Bakti menyatakan keluhan Presiden SBY, yang gajinya tidak naik selama tujuh tahun tidak baik di tengah kehidupan rakyat yang makin sulit didera berbagai kebijakan yang tidak pro rakyat.
“Seharusnya SBY sadar. Masih banyak rakyat yang susah (miskin). Dan hidupnya masih lebih baik dari kebanyakan rakyat di negeri ini,” katanya usai diskusi polemik di Cafe Warung Daun, Cikini, Jakarta, Sabtu.
Dia tidak kaget dengan pernyataan Presiden tersebut, sebab pernyataan senada pernah disampaikan dalam forum lain. “Pertanyaannya, kalau memang gajinya tidak naik, mengapa masih mencalonkan sebagi Presiden lagi.
Sehari sebelumnya, dihadapan perwira tinggi TNI dan Polri dalam Rapim dua institusi di Balai Samudera, Kelapa Gading, SBY menyatakan sejak Oktober 2004 sampai kini gajinya tidak naik-naik. “Sampaikan ke seluruh jajaran TN/Polri, sampai kini Gaji Presiden belum naik.”
Pernyataan ditengah telah diberikannya remnerasi kepada jajaran TNI/Polri disambut tepuk tangah para hadirin. Hal senada pernah diutarakan SBY, Jumat (4/4/2009) pada para guru besar peserta Program Peningkatan Kemampuan Guru di Surabaya. (ahi/Bi)

Bayi Diculik, 23 Tahun Kemudian Bertemu Ibunya

Sabtu, 22 Januari 2011 - 11:06 WIB

Bayi Diculik, 23 Tahun Kemudian Bertemu Ibunya SEORANG ibu akhirnya bertemu juga dengan anaknya yang 23 tahun menghilang karena diculik.. Kasus di AS tersebut menyedot perhatian dan keprihatinan dunia dan dianggap ibarat di sebuah film.
Bayi itu dibesarkan oleh keluarga lain. Anak yang sudah menjadi gadis cantik ini bernama Carlina White dengan wajah berbinar, akhirnya dapat bersama orang tua kandungnya pada akhir perjalanan yang luar biasa.
White berusia berumur 19 hari ketika ia diculik dari satu rumah sakit di Harlem, dan kemudian dibesarkan di Connecticut oleh seorang perempuan yang mengaku sebagai ibunya.
Selama masa kanak-kanaknya, Carlina White telah menghadapi serangkaian keraguan, kata New York Post. Ia sering dipukuli oleh orang yang menyebut diri ibunya, seorang pengguna narkotika.
Lalu, sekitar hari Natal, ia menghubungi National Center for Missing Children, dan cuma mengatakan, “Saya merasa sepertinya saya tak tahu siapa diri saya!”
Beberapa penyelidik segera mencocokkan dia dengan kasus yang tak terselesaikan pada 1987. Dan setelah pemeriksaan DNA, ia dan keluarga kandungnya dapat disatukan kembali.
Joy White, ibu kandung Carlina White, baru berusia 16 tahun ketika putrinya, yang baru dilahirkan pada 1987 diculik. Ia berbicara dengan CBS 2 pada 1987. Joy White saat itu memohon, “Tolong kembalikan bayi saya! Saya mau ia kembali sekarang. Saya cuma mau ia kembali.”
Hati orang tua Carline White, yang saat itu masih, hancur berantakan. Saat itu polisi mencurigai seorang perempuan yang telah keluyuran di sekitar rumah sakit, dan bertingkah seperti seorang perawat. Ia menyarankan Joy White agar pulang. (yahoo/puri/B)

Humor

Hukuman Koruptor
Warta Kota/YP Yudha 
BEDUL datang ke pengadilan untuk mengikuti sidang pembacaan putusan terhadap seorang pelaku korupsi Rp 5 miliar.
”.... terdakwa terbukti melakukan korupsi oleh karena itu terdakwa dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun dan wajib mengembalikan uang Rp 5 miliar ke negara,” kata hakim.
”Keberatan, Pak Hakim. Saya minta dihukum seumur hidup,” kata terdakwa. ”Lho, kenapa begitu?” tanya hakim. ”Kalau saya mengembalikan uang Rp 5 miliar itu, berarti saya jadi miskin. Lalu, bagaimana nasib saya setelah saya keluar dari penjara. Oleh karena itu, mending saya di penjara seumur hidup supaya bisa makan dan tidur gratis,” katanya. (Bang Kota)

Putus Cinta

Warta Kota/YP Yudha 
KEPONAKAN Bedul yang berprofesi sebagai pengusaha buah tengah putus cinta dengan pacarnya yang menjadi pemasok sayur-mayur ke supermarket. Dia kemudian menulis surat ke pacarnya.
"Wajahmu memang manggis, watakmu melonkolis, tapi hatiku nanas karena cemburu. Batinku anggur lebur, dan ini adalah delima dalam hidupku. Memang salakku jarang apel malam Minggu. Ya Tuhan, mohon belimbing aku, kalau perpisahan ini yang terbaik, semangka kau bahagia dengan yang lain."
Surat itu kemudian dibalas sang pemasok sayur-mayur. "Membalas kentang suratmu, brokoli sudah kubilang, jangan tiap datang rambutmu selalu kucai. Disuruh datang malam Minggu, eh nongolnya malah Labu. Ditambah lagi kondisi keuanganmu kini makin pare. Kalau mau telepon saja mesti ke wortel. Cabe deh...!" (Bang Kota)
(Dikutip dari rubrik Meseeem...ye... harian Warta Kota, Senin, 18 Oktober 2010)

anda pengunjung


selamata datang ...http://ithem-wwwithemithem.blogspot.com/

Pages










































































































ShoutMix chat widget

”contact
Photobucket Photobucket
Masukan Nama Penyanyi - Judul Lagu

Mesin Cari Free Download Mp3 Gratis

Osojisub

welcome