kurang percaya dengan hal-hal aneh demikian, tapi kadang kala pula hati
dibuat ciut dengan kejadian seperti yang pernah kami alami tahun lalu.
Menjelang tengah malam kudengar suara kentongan bertalu-talu, seperti
jutaan kentongan dipukul bersamaan. Semula terdengar samar-samar,
seperti dari kejauhan, semakin lama semakin keras seperti semakin
mendekat. Ibu segera berdiri di balik pintu depan, sambil komat kamit
membaca doa. Kudengar sepotong doanya:
“Ngalor, ngalor, aja ngetan aja ngulon.”
Kupeluk kaki ibu karena ketakutan oleh sesuatu yang tidak kumengerti.
“Ada gejog,” kata ibu, “Nyai Roro Kidul bersama bala tentaranya
sedang berarak menuju istananya di gunung Merapi. Orang yang tinggal
dekat Segara Kidul, yang pertama kali melihat ombak laut besar dan suara
gemuruh, mulai memukul kentongan. Itu pertanda Nyai Roro Kidul keluar,
naik kereta kencana, diiringi para serdadu jin. Kemudian orang desa yang
akan dilewati rombongan itu beramai-ramai memukul kentongan supaya
beliau tidak singgah ke desanya. Karena setiap beliau singgah, beliau
akan mengambi abdi dalem baru.”
Aku tetap kurang paham akan keterangan ibu. Yang aku tahu ibu telah
berdoa supaya rombongan itu tidak singgah ke sebelah timur Gunung
Merapi, letak desa kami.
Beberapa hari kemudian, malamnya, dua lelaki berseragam loreng datang
ke rumah dan mengajak ayah pergi, sepertinya dengan cara paksa. Ibu
mengejar sampai halaman depan sambil memohon supaya ayah jangan dibawa
dengan penuh iba.
“Ayah dibawa Nyai Roro Kidul ya Bu?” tanyaku.
“Hush!” jawab ibu sambil bergegas langsung masuk kamar tidur. Kudengar tangisan ibu menyayat hati.
Berita tentang perginya ayah merebak ke seluruh desa. Meskipun tak
begitu aku pahami artinya, kudengar dari Lik Kasdi, pamanku, bahwa
ayahku terlibat. Terlibat apa aku kurang jelas, hanya yang kuketahui
juga dari tetangga bahwa ayahku adalah seorang pegawai negeri yang suka
memberi penyuluhan kepada para petani.
Sejak itu, ibu kerap pergi dengan menjinjing rantang berisi nasi
dengan lauk ikan asin dan sayur daun singkong kesukaan ayah. Kami,
anak-anak, tidak diperkenankan ikut serta. Beberapa kali, aku yang
merasa anak terkecil suka merengek minta ikut. Dengan sedikit marah ibu
menjawab:
“Ibu akan nengok ayahmu yang sedang kerja, kamu jangan ganggu dia!”
Pasti ayah sedang kerja lembur, pikirku. Tetapi beberapa bulan
kemudian, ibu tidak bisa lagi berbohong, karena kemarin aku dengar dari
Lik Kasdi, bahwa ayah ditahan di kota.
Dan dia bercerita panjang lebar, tentang pemberontakan besar. Waktu
itu yang tertangkap dalam otak kecilku adalah tentang para jenderal yang
dikorbankan dimakan buaya di sebuah lobang.
“Ayahmu sedang berjuang,” ujar ibu dengan wajah keruh ketika aku
tanya soal tahanan ayah. Tanpa tahu apakah yang dimaksud dengan
berjuang, yang pasti aku kerap kali menangis sendirian bila malam waktu
tidur tiba. Setiap bangun pagi, ibu melihat mataku sembab. Rupanya ibu
pun tahu akan kerinduanku pada ayah. Kulihat air matanya mengembang.
Kemudian memelukku erat-erat, dan tangisnya tertahan meskipun air
matanya deras membasahi pundakku. Jadinya aku ikut menangis tanpa kutahu
sebabnya.
Sore itu, cahaya candik ala menyelinap lewat jendela menerpa lemari
kaca tempat memajang foto ayah dalam bingkai. Mungkin karena rinduku
pada ayah, kulihat seakan foto ayah bergerak, tangannya melambai
kepadaku. Terasa di dalam dadaku ada yang menggelepar-gelepar.
Kudengar pula dari Lik Kasdi, ayah bersama para tahanan beberapa lama
ini sedang dipekerjakan membuat tanggul sepanjang rawa besar di daerah
tak jauh dari rumah kami. Katanya tanggul yang sepanjang tiga kilometer
ini sekaligus untuk jalan penghubung antardesa yang terpisah oleh rawa.
Karena rinduku tak tertahankan lagi, dengan mengendap-endap lewat pintu
dapur, tanpa sepengetahuan ibu dan tanpa takut dengan cuaca candik ala,
sambil membawa pancing bambu, kugenjot sepedaku lari kencang ke rawa,
dengan harapan ayah masih di sana.
Setiba di sana, nampak banyak orang berseragam loreng dengan
menyandang senjata laras panjang. Mereka berjaga di sebelah timur rawa,
di mana kulihat ratusan orang sedang bekerja menggali tanah dan
mengangkat batu. Dalam terpaan cahaya kuning, wajah-wajah kurus semakin
mempertegas cekungan mata bagai mayat hidup. Dadaku berdebar-debar, tak
sabar untuk bisa cepat-cepat bertemu ayah, yang mungkin ada di sana.
Beberapa meter sebelum mencapai tempat mereka, seorang petugas
mengusirku, dan menyuruhku mancing agak jauh dari situ.
Kutaruh sepeda di pinggir jalan, kemudian duduk mencangkung di atas
batu padas di pinggir rawa. Dengan berpura-pura memancing, terus
kutajamkan mataku mencari ayah di antara ratusan orang yang sedang
bekerja. Langit yang membiaskan warna kuning agak menyilaukan mataku,
sehingga sulit mencari di mana ayah berada. Ketika langit berubah warna
memerah, pertanda magrib menjelang tiba, dan ketika aku nyaris putus
asa, kulihat di kejauhan seseorang berdiri tegak memandang ke arahku,
sementara yang lain masih bekerja…. Itulah ayah!
Kulempar pancing, tanpa menghiraukan para petugas, aku pun berlari,
menangis sambil berteriak keras-keras memanggil ayah. Ayah seperti
tertegun melihat kedatanganku.
Tetapi kemudian wajahnya berubah gembira, meskipun kulihat seperti
dipaksakan. Lengannya terentang menyambutku. Kujatuhkan diriku memeluk
lututnya dan menangis sejadi-jadinya. Kulihat ayahku sangat kurus dan
lusuh, tapi nampak diusahakan selalu tubuhnya ditegap-tegapkan.
“Kapan ayah pulang? Kapan, yah, kapan?” tanyaku berulang-ulang
Ayah tersenyum lebar sambil jawabnya: “Nanti kalau kerja besar ini selesai, cah bagus.”
Beberapa petugas mendekati kami. Ayah bicara kepada mereka beberapa
saat, kemudian kami dibiarkan berdua. Kami hanya berpelukan sampai
terdengar peluit tanda usai kerja. Kami bergerak bersama para tahanan
menuju truk-truk yang sudah tersedia, sambil kupeluk pinggang ayah.
“Ayah tidak kena penyakit karena candik ala?” tanyaku.
Ayah tertawa. Sambil mengelus rambutku ayah bekata:
“Tidak mungkin ayah kena. Ayah sehat karena banyak makan sayur.”
Kemudian ayah membopongku, menciumiku sambil tawanya yang nampak
dipaksakan pula. “Ayah nanti tidur di p..p..penjara?” tanyaku
terbata-bata menahan tangis.
“Siapa bilang, he..he..he, bukan di penjara, tapi di hotel!”
“Ayah sedang berjuang?” tanyaku kemudian. Ayah nampak kaget.
“Ibu yang bilang…,” kataku menjelaskan. Ayah tertawa mendengar ini.
Menjelang dekat truk, ayah berjalan dengan tegak sambil menyanyikan
sebaris lagu Indonesia Raya. Para petugas dan para tahanan
terheran-heran, memandang kami. Setelah menurunkan aku dari
gendongannya, ayah melompat ke bak truk. Sambil menoleh kepadaku, ayah
mengacungkan tinju ke atas, dan katanya keras-keras:
“Ingat Aryo, kamu harus selalu berjalan tegak, menghadapi nasib apa
pun. Termasuk kalau ada candik ala…. Dan jangan lupa lagu Indonesia
Raya!”
Barisan truk pelan-pelan semakin jauh meninggalkanku sendirian di pinggir rawa. Tak terasa air mata membanjir membasahi pipi.
“Ayaaaaaaaaah!!” teriakku keras-keras muncul sendiri tanpa kusadari.
Saat usia sekolahku tiba, suatu malam Lik Kasdi, yang sudah menjadi
carik desa, datang mengunjungi rumah kami. Di ruang depan dia bicara
setengah berbisik kepada ibuku. Dari balik pintu kamarku, kutangkap
pembicaraan mereka, bahwa ayah sudah menyambut maut dengan gagah sambil
menyanyikan Indonesia Raya, katanya.
“Saya sudah berusaha keras menolongnya, Mbakyu,” ujar Lik Kasdi,
“Sudah kuberi bukti bahwa Mas Kasman tidak terlibat, melainkan karena
fitnah bekas bawahannya yang sakit hati karena dia pecat.” Aku mau
menangis keras, tapi terasa tenggorokanku tercekik. Semalam suntuk aku
terduduk di balik pintu kamar, sambil mendengar isakan ibu dan Yu Rini,
berkepanjangan di kamarnya.
Tiga tahun kemudian, ibuku pun menyusul ayah. Bukan karena diambil
Nyai Roro Kidul, melainkan oleh sakit batuk yang diidapnya sekian lama.
Yu Rini pun menikah dengan seorang aparat desa dan aku ikut dengannya.
Berpuluh tahun kemudian, setelah melewati berapa puluh sore candik ala,
setiap cuaca demikian, ada sesuatu yang pedih, seakan ada yang pecah
berkeping-keping di dalam dadaku. Dan telah sekian puluh tahun pula aku
mencoba benar-benar berjalan tegak, tapi sangatlah sulit. Hanya karena
aku adalah anak kandung ayah. Dan semua orang masih saja mengingat ayah
adalah ayah kandungku.
Sekarang ini, aku masih juga mencoba berjalan tegak, meskipun sudah
sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi hanya baru bisa melata di
tanah!
Klaten, 2005
Catatan:
Candik ala: pertanda buruk dengan cuaca sore yang membiaskan warna kuning
Ora ilok: pamali, larangan
Gejog: barisan roh halus
Nyai Roro Kidul: Ratu Laut Selatan
Ngalor, ngalor, aja ngetan, aja ngulon: ke utara, ke utara, jangan ke timur jangan ke barat
Segara Kidul: Laut Selatan
Kali Woro: sungai besar di lereng gunung Merapi yang dipenuhi pasir dan lahar dingin..